http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/issue/feedJurnal Ilmiah Matematika (JIMAT)2026-10-01T09:35:18+07:00Rusdyi Habsyirusdy.habsy@gmail.comOpen Journal Systems<p align="justify">The Scientific Jurnal Ilmiah Matematika (JIMAT) is a scientific periodical publication (e-ISSN: 2774-1729) that presents the latest information in the field of Mathematics Education and Mathematical Science, through articles both based on field research and literature review. Through these publications, the Scientific Jurnal Ilmiah Matematika (JIMAT) pursues the mission to distribute information and develop science, especially in the fields of Mathematics Education and Mathematical Science. By using the Open Journal System (OJS), the Scientific Jurnal Ilmiah Matematika (JIMAT)can be widely accessed and researchers can submit research results packaged in the form of articles by following the guidelines provided by the Scientific Jurnal Ilmiah Matematika (JIMAT).<strong> </strong> </p>http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1478Analisis Kesalahan Siswa pada Materi Persamaan Kuadrat Menggunakan Newman Error Analysis (NEA)2026-09-24T19:46:26+07:00Ernawati Ernawatiernawati4298@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara komprehensif jenis-jenis kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal materi persamaan kuadrat ditinjau dari tahapan <em>Newman Error Analysis</em> (NEA). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian melibatkan 10 orang siswa kelas X di SMA Negeri 1 Cipatat yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Instrumen pengumpulan data terdiri dari tes tertulis berbentuk uraian sebanyak 5 butir soal dan pedoman wawancara, di mana analisis data persentase kesalahan dihitung menggunakan bantuan <em>Microsoft Excel</em> dan wawancara data dianalisis melalui model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan sebaran distribusi kesalahan siswa sebagai berikut: kesalahan membaca (<em>reading error</em>) sebesar 0,0%; kesalahan memahami (<em>comprehension error</em>) sebesar 5,9% (terjadi pada soal nomor 1); kesalahan transformasi (<em>Transformation error</em>) sebesar 58,8% (terjadi pada soal nomor 5); kesalahan keterampilan proses (<em>process skill error</em>) sebesar 29,4% (terjadi pada soal nomor 3 dan 4); dan kesalahan penulisan jawaban akhir (<em>coding error</em>) sebesar 5,9% (terjadi pada soal nomor 2). Temuan mengindikasikan bahwa kesalahan transformasi merupakan jenis tantangan yang paling dominan, di mana siswa mengalami kesulitan besar dalam mengubah representasi verbal-konseptual karakteristik grafik fungsi kuadrat ke dalam model matematika berupa syarat diskriminan yang tepat. Rekomendasi penelitian ini adalah perlunya guru memberikan tindakan perbaikan (s<em>caffolding</em>) yang terfokus pada penguatan kemampuan pemodelan aljabar dan mendorong siswa untuk lebih teliti memeriksa kembali langkah pengerjaan sebelum menuliskan jawaban final demi meminimalisir miskonsepsi berkelanjutan.</p>2026-09-24T19:46:26+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1493Peran Transformasi Geometri Dalam Pengembangan Metode Penyelesaian Soal Geometri Analitik2026-09-25T12:43:02+07:00Agnes Seravina Ruronseravinaruron@gmail.comFalma Ninifalmalianini548@gmail.comMaria Magdalena Tiba Hayondinihayon@gmail.comAnra Alawardi Kuainanrakuain46@gmail.comIrwanius Piter Muarayairwanius.muaraya@gmail.com<p>Geometri analitik merupakan salah satu materi matematika yang dianggap sulit oleh sebagian besar peserta didik karena menuntut kemampuan visualisasi dan pemahaman hubungan erat antara konsep aljabar dan geometri. Banyak siswa mengalami kesulitan dalam menentukan langkah penyelesaian yang tepat serta memahami makna dari hasil perhitungan yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran transformasi geometri, yang meliputi translasi, rotasi, refleksi, dan dilatasi, dalam mengembangkan metode penyelesaian soal geometri analitik menjadi lebih sederhana, sistematis, dan mudah dipahami. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan analisis konten. Subjek penelitian berupa berbagai sumber pustaka seperti buku teks, jurnal ilmiah, dan dokumen kurikulum yang relevan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar analisis materi dan pedoman pengkajian konsep matematika. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui tahap pengumpulan sumber, reduksi data, penyajian informasi, hingga penarikan kesimpulan, sedangkan analisis data dilakukan dengan cara membandingkan metode penyelesaian konvensional dengan metode yang memanfaatkan prinsip transformasi geometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan transformasi geometri mampu menyederhanakan bentuk persamaan, mengubah posisi objek geometri menjadi posisi yang lebih mudah dihitung, serta memberikan makna visual terhadap setiap langkah penyelesaian. Hal ini berdampak positif pada efisiensi perhitungan dan penguatan pemahaman konsep siswa. Implikasi dari penelitian ini menegaskan bahwa integrasi konsep transformasi dalam pembelajaran geometri analitik sangat disarankan agar siswa tidak hanya terampil secara hitungan, tetapi juga memiliki wawasan geometris yang kuat dan mampu mengembangkan cara berpikir yang luwes dalam memecahkan masalah matematika.</p>2026-09-25T12:43:02+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1509Optimasi Alokasi Lahan Padi dan Cabai Merah dengan Program Linear2026-09-25T22:05:42+07:00Andi Susantoandisusanto@uinib.ac.idSri Hidayahsrihidayah013@gmail.comAndini Fadillahandinifadillah47@gmail.comHanifah Hanifahhanifah19juli2004@gmail.com<p>Keterbatasan lahan dan disparitas profitabilitas antara komoditas padi dan cabai merah memicu tantangan dalam penentuan alokasi ruang agrikultur. Strategi yang tepat dibutuhkan guna mengamplifikasi keuntungan finansial tanpa mereduksi kuota ketersediaan pangan lokal. Riset ini diaplikasikan untuk merumuskan proporsi luasan lahan paling optimal bagi kedua jenis tanaman di Kota Padang dengan memanfaatkan <em>linear programming</em>. Konstruksi model matematis mengandalkan data sekunder BPS Kota Padang tahun 2024. Sasaran utama (<em>objective function</em>) diarahkan pada maksimisasi margin usahatani, yang diikat oleh batasan (<em>constraints</em>) berupa total luas area 22.922,11 hektare dan batas bawah (<em>lower bound</em>) produksi beras sebanyak 80.092 ton. Perhitungan berbasis presisi membuktikan bahwa luasan paling ideal adalah 14.405 hektare khusus untuk budidaya padi, dan sisanya 8.517,11 hektare dialokasikan bagi cabai merah. Keputusan spasial tersebut berpotensi mengeskalasi proyeksi keuntungan maksimum hingga menembus angka Rp Rp223.558.981.400,00. Konklusi penelitian menunjukkan bahwa pendekatan kuantitatif ini mumpuni untuk menjembatani benturan kepentingan (<em>trade-off</em>) antara keamanan pangan dan rasionalisasi ekonomi. Hasil pemodelan ini menyajikan basis analisis pendahuluan untuk perencanaan komoditas, dengan tetap menyadari asumsi kondisi <em>ceteris paribus</em> pada variabel harga maupun laju panen.</p>2026-09-25T22:05:42+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1506Analisis Kesalahan Prosedur Newman pada Materi SPtLDV dalam Pembelajaran Program Linear: Systematic Literature Review2026-09-25T23:26:34+07:00Ernawati Ernawatiernawati4298@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan merangkum secara sistematis tren jenis kesalahan siswa berdasarkan Prosedur Newman dalam menyelesaikan soal materi Sistem Pertidaksamaan Linear Dua Variabel (SPtLDV) pada pembelajaran program linear. Metode penelitian yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan panduan protokol PRISMA. Proses penjaringan data dilakukan secara digital melalui basis data Google Scholar, Garuda, dan Sinta dalam rentang waktu tahun 2020 hingga 2026, dan diperoleh 15 artikel jurnal ilmiah final yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kesalahan siswa bersifat konsisten dan linear, dengan kesalahan terbanyak terjadi pada tahap kesalahan transformasi (transformation error) dan kesalahan keterampilan proses (process skills error ). Siswa mengalami kesulitan besar dalam mengubah representasi verbal soal cerita menjadi model matematika, serta mengalami kesulitan dalam membuat grafik dan menentukan arah arsiran Daerah Penyelesaian (DP). Sebaliknya, kesalahan pada tahap awal umumnya berada pada kategori rendah dan dominan dipicu oleh faktor ketidaktelitian. Untuk mengatasi kesalahan tersebut, guru direkomendasikan untuk memberikan penguatan kepada siswa dalam membuat model matematika dan integrasi media pembelajaran inovatif seperti GeoGebra untuk pembelajaran di kelas</p>2026-09-26T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1574Analisis Analisis Statistik Deskriptif Persentase Kecambah Kelapa Sawit pada Proses Pemanasan dan Penyortiran di SSPL PT Socfin Indonesia2026-09-26T11:17:09+07:00Sahrudin Sahrudinsahrudinlingga5@gmail.comMuhammad Rizki Hanafirizkihanafi54@gmail.comAulia Fatma Br. Panjaitanauliafatma171@gmail.comIsmail Huseinhusein_ismail@uinsu.ac.id<p>Kualitas benih merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung penyediaan bahan tanam kelapa sawit yang bermutu. Dalam proses produksi, pemanasan dan penyortiran menjadi tahapan penting untuk mempersiapkan serta memantau perkembangan kecambah sebelum melanjutkan ke tahap produksi berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persentase kecambah yang teramati setelah proses pemanasan selama kurang lebih 70 hari dan penyortiran di SSPL PT Socfin Indonesia. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif terhadap 20 <em>batch</em> produksi yang diamati pada 30 Juli sampai 24 Agustus 2024. Data diperoleh melalui pengamatan dan pencatatan jumlah butir awal, benih busuk, butir sehat, dan kecambah pada setiap <em>batch</em>. Persentase kecambah dianalisis menggunakan statistik deskriptif meliputi rata-rata, median, standar deviasi, nilai minimum, maksimum, kuartil, <em>interquartile range</em> (IQR), koefisien variasi, dan identifikasi <em>outlier</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kecambah yang teramati memiliki variasi yang cukup besar antarbatch, dengan nilai minimum 0,320407651%, maksimum 8,28210935%, rata-rata 2,346082027%, standar deviasi 2,425890316%, dan median 1,263795352%. Koefisien variasi sebesar 103,401768898% dan ditemukan empat <em>outlier</em> tinggi menunjukkan adanya penyebaran data yang relatif besar. Berdasarkan kategori, persentase gabungan tertinggi terdapat pada S.7104 sebesar 8,2821093%, sedangkan terendah pada S.0527 sebesar 0,3204077%. Hasil penelitian memberikan gambaran kuantitatif mengenai variasi kecambah pada kondisi produksi nyata dan dapat menjadi informasi awal dalam pemantauan hasil penyortiran. Persentase yang diperoleh merupakan kecambah yang teramati pada saat pemeriksaan dan bukan ukuran keberhasilan akhir perkecambahan.</p>2026-09-26T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1578Pembelajaran Mendalam Pada Aritmetika Sosial Dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa2026-09-26T14:05:36+07:00Sulistiani Sapsuhasulissapsuha56@gmail.comRusdyi Habsyirusdy.habsy@gmail.comOde ZulaehaOdezulaeha@gmail.com<p>Penelitian ini menguji perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa setelah pembelajaran mendalam pedagogis pada materi aritmetika sosial. Penelitian menggunakan eksperimen kuasi dengan pretest-posttest control-group design. Sampel terdiri atas 40 siswa kelas VII SMP Negeri 3 Kota Ternate: 20 siswa kelas eksperimen dan 20 siswa kelas kontrol. Instrumen berupa tes uraian yang menilai kemampuan memahami masalah, merencanakan strategi, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa jawaban, serta lembar observasi keterlaksanaan. Data individual dianalisis ulang untuk mengatasi ketidakkonsistenan antara tabel deskriptif dan interpretasi pada laporan sumber. Rerata posttest kelas eksperimen 68,30 (SD = 25,24), lebih tinggi daripada kontrol 53,35 (SD = 27,94). Namun, uji t dua-arah menunjukkan perbedaan tersebut belum signifikan, t(38) = 1,776, p = 0,084, dengan Hedges’ g = 0,55 dan interval kepercayaan 95% selisih rerata [-2,09; 31,99]. Rerata N-gain juga lebih tinggi pada eksperimen (0,606) daripada kontrol (0,427), tetapi perbedaan berdasarkan data individual tidak signifikan, t(38) = 1,630, p = 0,111. Pembelajaran eksperimen menunjukkan keterlaksanaan guru dan aktivitas siswa masing-masing 95%. Temuan mengindikasikan kecenderungan efek sedang dan keterlibatan yang lebih baik, tetapi belum memberikan bukti inferensial memadai tentang keunggulan intervensi. Penelitian berikutnya memerlukan durasi lebih panjang, sampel lebih besar, kesetaraan perlakuan dan pengukuran, serta analisis yang mengendalikan skor awal.</p>2026-09-26T14:05:36+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1557Transformasi Intensitas Adaptif dengan Preservasi Urutan Tingkat Kecerahan pada Citra Cahaya Rendah2026-09-27T15:56:26+07:00Ahmad Fawaid Ridwana.fawaid.r@uinsgd.ac.idMuhammad Herlambang Prakasa Yudhaprakasa.yudha@tbu.ac.id<p>Citra dengan kondisi pencahayaan rendah umumnya memiliki kontras yang rendah, detail objek yang kurang terlihat, serta rentan terhadap derau sehingga dapat menurunkan kualitas visual dan performa analisis lanjutan. Metode peningkatan kualitas citra berbasis transformasi intensitas dapat meningkatkan visibilitas area gelap, tetapi pemilihan parameter transformasi yang tidak adaptif dapat menyebabkan peningkatan intensitas yang berlebihan (<em>over-enhancement</em>) dan perubahan hubungan tingkat kecerahan (<em>light order</em>). Penelitian ini mengusulkan <em>Adaptive Light-Order Preserving Intensity Transformation</em> (ALPIT) sebagai metode peningkatan kualitas citra berbasis transformasi intensitas adaptif. Metode yang diusulkan membangun fungsi transformasi <em>piecewise</em> menggunakan <em>adaptive anchor point</em> yang ditentukan berdasarkan rata-rata intensitas, variansi, dan entropi ternormalisasi sehingga proses transformasi dapat disesuaikan dengan karakteristik distribusi intensitas citra. Kinerja ALPIT dievaluasi secara visual dan kuantitatif pada tiga citra dengan kondisi pencahayaan rendah dan dibandingkan dengan <em>Gamma Correction</em> (GC) serta <em>Contrast Limited Adaptive Histogram Equalization</em> (CLAHE) menggunakan metrik SSIM dan LOE. Pada tiga citra yang diuji, ALPIT memperoleh nilai rata-rata SSIM sebesar 0,6717, lebih tinggi dibandingkan GC (0,3992) dan CLAHE (0,4755), serta nilai rata-rata LOE sebesar 104,5199, lebih rendah dibandingkan GC (127,7193) dan CLAHE (209,2536). Hasil visual menunjukkan peningkatan visibilitas pada area gelap dengan perubahan intensitas pada area terang yang relatif terkendali. Hasil ini menunjukkan bahwa ALPIT merupakan pendekatan awal yang berpotensi meningkatan citra <em>low-light</em>, dengan hasil evaluasi yang pada penelitian ini masih terbatas pada tiga citra grayscale dan dua metode pembanding klasik.</p>2026-09-27T15:53:58+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1552Analisis Kemampuan Matematis Siswa Berdasarkan Standar NCTM Pada Materi bangun Ruang Sisi Datar2026-09-28T09:13:28+07:00Lorensius Almantolorensiusalmanto230@gmail.comDede Suratmanlorensiusalmanto230@gmail.comNurfadilah Siregarlorensiusalmanto230@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan matematis siswa kelas IX SMP Bruder Pontianak pada materi bangun ruang sisi datar berdasarkan lima standar proses National Council of Teachers of Mathematics (NCTM), yaitu pemecahan masalah, representasi, komunikasi, penalaran, dan koneksi matematis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan subjek 36 siswa yang dipilih secara purposive. Instrumen penelitian berupa tes uraian yang disusun berdasarkan indikator lima standar proses NCTM dan dinilai menggunakan rubrik penskoran skala empat. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan skor rata-rata pada setiap aspek kemampuan matematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan matematis siswa belum berkembang secara merata. Aspek representasi memperoleh skor rata-rata tertinggi sebesar 2,91 dengan kategori baik. Pemecahan masalah memperoleh skor 2,44, komunikasi matematis 2,19, dan koneksi matematis 1,97 yang masing-masing berada pada kategori cukup. Sementara itu, penalaran matematis memperoleh skor terendah sebesar 1,75 dengan kategori kurang. Temuan tersebut menunjukkan bahwa siswa relatif mampu menggunakan gambar, model visual, dan jaring-jaring bangun ruang, tetapi masih mengalami kesulitan dalam memberikan alasan logis, menjelaskan proses berpikir, dan menghubungkan konsep matematika dengan konteks nyata. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan gambaran profil kemampuan matematis siswa secara komprehensif berdasarkan lima standar proses NCTM pada materi bangun ruang sisi datar. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih menekankan penguatan penalaran, komunikasi, koneksi matematis, dan pemecahan masalah.</p>2026-09-28T09:13:28+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1568Analisis Kualitas Butir Soal Berbasis AKM dalam Mengukur Kemampuan Literasi dan Numerasi Siswa SMP pada Implementasi Kurikulum Merdeka.2026-09-28T20:09:07+07:00Suryadi Ishaksuryadi.ishak@unm.ac.idSyahrul Syahrulsyahrul@unm.ac.idFathullah Wajdifathullah.wajdi@unm.ac.id<p>Implementasi Kurikulum Merdeka menempatkan literasi dan numerasi sebagai kompetensi fondasional sehingga diperlukan instrumen berkarakteristik Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas butir soal berbasis AKM dalam mengukur kemampuan literasi dan numerasi siswa SMP serta memetakan profil penguasaan berdasarkan proses kognitif. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan populasi siswa SMP di Kota Polman dan sampel 246 siswa melalui purposive sampling. Instrumen berupa tes objektif pilihan ganda 18 butir berbasis AKM dan lembar validasi ahli. Data dianalisis menggunakan koefisien V Aiken untuk validitas isi dan teori tes klasik (CTT) untuk tingkat kesukaran, daya beda, serta keberfungsian pengecoh. Hasil penelitian menunjukkan koefisien V Aiken 0,60–0,85 (rerata 0,76), sehingga seluruh butir valid secara isi. Tingkat kesukaran 0,34–0,79, terdiri atas 15 butir sedang dan 3 butir mudah. Daya beda 0,394–0,817, dengan 13 butir sangat baik, 4 baik, dan 1 cukup, tanpa indeks negatif. Seluruh pengecoh berfungsi dengan proporsi pemilih di atas 5%. Profil numerasi menunjukkan capaian tertinggi pada penerapan (59%), diikuti pemahaman (52%), dan penalaran (50%). Butir yang dikembangkan berkualitas memadai dan layak digunakan sebagai alat ukur literasi dan numerasi SMP serta mendukung asesmen diagnostik dan penguatan pembelajaran berorientasi penalaran dan masalah non-rutin dalam Kurikulum Merdeka bagi guru dalam pelaksanaan pembelajaran dan asesmen.</p>2026-09-28T20:09:07+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1589Profil Kemampuan Pemodelan Matematika Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah SPLDV2026-09-30T06:11:06+07:00Nur Assafiyati M. Rioassafiyatimrio@gmail.comRusdyi Habsyirusdyhabsy@isdikkieraha.ac.idAsmira Sudimansudimanasmira@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konfigurasi kemampuan pemodelan matematika siswa dalam menyelesaikan masalah sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sebanyak 33 siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Kota Ternate mengikuti tes penyaringan; tiga siswa yang memperoleh skor maksimum dipilih secara purposif sebagai subjek utama. Data berupa pekerjaan tertulis, wawancara berbasis tugas, dan catatan observasi dianalisis melalui enam tahap: memahami situasi, menyederhanakan dan menetapkan asumsi, mematematisasi, bekerja secara matematis, menafsirkan, serta memvalidasi dan mengomunikasikan hasil. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan ketiga sumber data dan kasus negatif. Hasil menunjukkan bahwa ketiga subjek mengenali besaran yang dicari, menetapkan variabel, dan membentuk relasi dasar SPLDV. Namun, semuanya menyamakan asumsi dengan pemisalan variabel. Subjek 1 membentuk model tepat tetapi tidak menuntaskan prosedur, interpretasi, dan validasi; Subjek 2 membentuk dan menyelesaikan model dengan benar serta menafsirkan harga penggaris Rp3.500 dan penghapus Rp2.000, tetapi validasi masih implisit; Subjek 3 memulai model dengan tepat tetapi mengubah konstanta, tidak menuntaskan prosedur, dan tidak menafsirkan hasil secara lengkap. Validasi dan komunikasi menjadi tahap terlemah: pernyataan telah memeriksa jawaban tidak didukung substitusi balik atau penilaian kewajaran. Temuan menegaskan bahwa skor penyaringan yang sama tidak menjamin konfigurasi kemampuan pemodelan yang sama.</p>2026-09-30T05:38:48+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1522Pengaruh Pengaruh Strategi Giving Question and Getting Answer terhadap Keaktifan Siswa SMKN 4 Pekanbaru2026-09-30T20:02:38+07:00Rezi Ariawanreziariawan@edu.uir.ac.idWalana Yumna Aribahwalanayumna803@gmail.com<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh strategi pembelajaran GQGA terhadap keaktifan siswa SMKN 4 Pekanbaru. Metode penelitian yang digunakan yaitu </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">quasi eksperimen</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> dengan desain yang digunakan adalah </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">One Group Pretest Posttest Design.</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> Populasi dalam penelitian ini ialah siswa kelas X KKBT 1 SMKN 4 Pekanbaru berjumlah 37 siswa. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa angket, modul terbuka, LKPD, dan soal. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif dan inferensial. Hasil analisis data secara deskriptif diperoleh rata-rata nilai keaktifan siswa sebelum diberikan perlakuan sebesar 51,361 dan setelah diberikan perlakuan sebesar 55,166 yang dalam hal ini termasuk kategori sedang. Sedangkan dari analisis inferensial menggunakan uji normalitas, dan uji </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">berpasangan sampel t-test</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> menunjukkan bahwa nilai sig.(2 </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">tailed</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ) diperoleh sebesar 0,001 dimana nilai 0,001<0,05. Dengan demikian, strategi </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Giving Question and Getting Answer</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> lebih efektif meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar matematika.</span></span></p>2026-09-30T06:17:36+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1583Pembelajaran Mendalam Dan Proses Berpikir Matematis Siswa Pada Materi Komposisi Fungsi2026-09-30T20:13:19+07:00Ode Sitti Rahmawatiwaode288@gmail.comRusdyi Habsyirusdyihabsyi@isdikkieraha.ac.idOde Zulaehaodezulaeha4@mail.com<p>Penelitian ini menguji perbedaan proses berpikir matematis siswa setelah penerapan pembelajaran mendalam pedagogis pada materi komposisi fungsi. Pembelajaran mendalam dalam studi ini merujuk pada pengalaman belajar mindful, meaningful, dan joyful, bukan teknologi kecerdasan buatan. Penelitian menggunakan eksperimen kuasi dengan nonequivalent control-group design. Dua kelas XI SMA Negeri 1 Kota Ternate dipilih secara purposif; hanya peserta yang mengikuti seluruh rangkaian dianalisis, yaitu 15 siswa pada kelas eksperimen dan 14 siswa pada kelas kontrol. Data diperoleh melalui tes uraian berbasis tahapan Entry, Attack, dan Review, serta observasi keterlaksanaan pembelajaran. Data posttest berdistribusi normal, tetapi varians antarkelompok tidak homogen; karena itu, perbedaan rerata diuji menggunakan Welch’s independent-samples t-test. Rerata posttest kelas eksperimen mencapai 85,00 (SD = 10,24), sedangkan kelas kontrol 62,50 (SD = 26,40). Perbedaannya signifikan, t(16,604) = 2,986, p = 0,008, dengan selisih rerata 22,50 poin dan Hedges’ g = 1,11. Temuan menunjukkan bahwa kelas yang memperoleh pembelajaran mendalam memiliki capaian proses berpikir matematis lebih tinggi, khususnya pada aktivitas memahami masalah dan mengembangkan strategi. Namun, karena kelas tidak diacak, mortalitas sampel tinggi, durasi intervensi hanya tiga pertemuan, dan analisis utama berbasis posttest, hasil tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti kausal yang luas. Studi lanjutan perlu menggunakan ANCOVA atau model perubahan dengan sampel lebih besar, durasi lebih panjang, serta reliabilitas antarpenilai.</p>2026-09-30T20:13:19+07:00##submission.copyrightStatement##http://www.jurnal.isdikkieraha.ac.id/index.php/jimat/article/view/1588Miskonsepsi Siswa Menggunakan Three Tier Test pada Materi SPLDV Berdasarkan Tipe Kepribadian Introvert dan Extrovert SMP IT Wahdah Islamiyah Makassar2026-10-01T09:35:18+07:00Ahmad Thalibahmadtalibunm@gmail.com<p>Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan menganalisis miskonsepsi siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) menggunakan three-tier test berdasarkan tipe kepribadian. Subjek terdiri atas empat siswa kelas VIII B1 SMP IT Wahdah Islamiyah Makassar, masing-masing dua siswa introvert dan ekstrovert, yang dipilih dari 29 siswa berdasarkan angket kepribadian, rekomendasi guru, dan kesediaan mengikuti wawancara. Instrumen meliputi angket kepribadian, three-tier test, dan pedoman wawancara. Data dianalisis melalui kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, dengan keabsahan diperiksa melalui triangulasi sumber. Hasil menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami miskonsepsi dalam menggunakan variabel untuk memodelkan masalah kontekstual serta membedakan persamaan linear dua variabel (PLDV) dan SPLDV. Subjek ekstrovert meyakini PLDV harus memuat dua persamaan, koefisien, dan konstanta, tanpa bentuk akar atau pangkat. Mereka juga memiliki pemahaman keliru mengenai jumlah persamaan serta keberadaan koefisien dan konstanta dalam SPLDV. Pada konsep solusi, E1 menyamakan nilai variabel dengan koefisien, sedangkan E2 menganggap hubungan keduanya sebagai penjumlahan. Pada kelompok introvert, I1 menganggap variabel sebagai huruf beserta angka di depannya, sedangkan I2 menganggap koefisien sebagai angka setelah tanda sama dengan. Keduanya meyakini PLDV harus memuat dua persamaan dan koefisien tanpa bentuk akar, memiliki pemahaman keliru mengenai unsur SPLDV, serta menganggap semua SPLDV memiliki solusi dan nilai variabel merupakan koefisien. Dalam kasus yang diteliti, miskonsepsi subjek ekstrovert dikaitkan dengan kurangnya ketelitian dan kekeliruan menghubungkan informasi, sedangkan pada subjek introvert dikaitkan dengan kecenderungan tertutup dan penggunaan cara sendiri yang menyulitkan pengaitan konsep. Temuan memperlihatkan kesamaan miskonsepsi antarkelompok sekaligus perbedaan pada pemaknaan unsur aljabar dan solusi SPLDV.</p>2026-09-30T00:00:00+07:00##submission.copyrightStatement##